Mengenal Ketentuan Kosmetik Berlabel Halal dari LPPOM MUI

Posted by Halalova 03/11/2018 0 Comment(s) Tips,News,

Dilansir dari CNN Indonesia -- Konsumen kosmetik Indonesia yang mayoritas beragama Islam patut waspada dengan berbagai produk kecantikan dan perawatan kulit yang tak memiliki label halal. Label itu menjadi penanda bahwa produk kosmetik sudah memiliki sertifikat halal yang berarti boleh digunakan oleh seorang Muslim sesuai fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Muti Arintawati menjelaskan sertifikat halal merupakan fatwa tertulis yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai ketentuan Islam meliputi bahan hingga proses produksi. LPPOM MUI merupakan lembaga yang berhak mengeluarkan label dan sertifikat halal untuk berbagai produk yang dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Menurut Muti, sertifikat halal ini penting untuk memastikan tubuh tidak terkontaminasi bahan-bahan yang diharamkan secara agama Islam. Bahan-bahan ini sekaligus menjadi penentu ibadah seorang Muslim diterima Allah. Bahan yang banyak digunakan dalam kosmetik seperti unsur dari babi, anjing atau binatang buas dan manusia, darah, bangkai, serta alkohol.


"Untuk kosmetik ini penting karena tidak bisa lepas saat salat jadi harus dipastikan semua yang digunakan bebas dari najis. Bayangkan kalau ketika ada bahan najis itu, sayang sekali tidak diterima salatnya," kata Muti saat pemberian sertifikat halal untuk produk Safi di Jakarta, Kamis (29/3).

Selain bahan yang halal, kosmetika juga harus dapat membuat air wudhu meresap ke dalam kulit.

Untuk mendapatkan sertifikat halal dari LPPOM MUI, sebuah produk mesti menjalani serangkaian pengujian. Muti menyebut pertama kali perusahaan yang memproduksi harus menerapakn sistem jaminan halal. Sistem itu merupakan komitmen memproduksi produk dengan cara halal. 

Sistem jaminan halal ini meliputi kebijakan, manajemen, bahan, produksi, fasilitas, prosedur, hingga audit internal yang halal. Sistem ini akan diberi penilaian oleh LPPOM MUI.

"Perusahaan harus mendapatkan nilai minimum B pada bagian sistem jaminan halal supaya bisa dapat sertifikat halal," ucap Muti.

Setelah menerapkan sistem jaminan halal, perusahaan dapat melakukan pendaftaran sertifikat halal secara online di laman atau aplikasi LPPOM MUI. Perusahaan pangan atau kosmetik harus menyiapkan dokumen berupa daftar produk, bahan, dan bukti kebijakan halal lainnya.

Setelah itu, LPPOM MUI bakal menguji produk di laboratorium termasuk menguji untuk air wudhu. LPPOM MUI juga bakal mengunjungi pabrik pembuatan produk kosmetik.

"Mulai dari registrasi, mengunggah dokumen, pemeriksaan hingga audit ke pabrik. Tidak cukup hanya dengan memeriksa produk kosmetik di laboratorium saja, tapi juga harus dilihat proses pembuatannya," tutur Muti.

Jika memenuhi semua persyaratan, produk kosmetik itu bakal dirapatkan dalam sidang komisi fatwa LPPOM MUI untuk mendapatkan sertifikat halal. Melalui, sidang itulah keputusan sertifikat halal didapatkan.

Sertifikat halal ini berlaku selama dua tahun dan dapat diperpanjang kembali sebelum berakhir dengan tetap mengikuti serangkaian pengujian.
 

Menurut Muti, jumlah kosmetik atau perusahaan yang mendaftarkan produknya mendapatkan label halal masih tertinggal dibanding produk makanan. Kendati demikian, dalam beberapa waktu terakhir jumlah kosmetik halal terus meningkat.

Data LPPOM MUI mencatat pada 2016 terdapat 48 perusahaan dengan total 5.254 produk kosmetik halal dan pada 2017 sebanyak 64 perusahaan dengan total 3.219 produk. Hingga Maret 2018, sudah tercatat terdapat 41 perusahaan dengan total 2.115 produk bersertifikat halal. Untuk mengetahui produk kosmetik bersertifikat halal, konsumen dapat mengecek di lamam MUI halalmui.org. 

Tags/penandaan: lifestyle halal kosmetik halal

Leave a Comment